Perjalanan kali ini ke Flores, aku memilih berangkat dari Denpasar, Bali. Menggunakan penerbangan pukul 6 pagi aku berangkat menggunakan maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Sedangkan 9 teman ku lainnya menggunakan maskapai penerbangan Trans Nusa. Penerbangan yang menyenangkan dengan pelayanan kelas dunia walaupun hanya menggunakan pesawat jenis ATR yang menggunakan baling baling pada sisi sayap kanan dan kiri.
My Ticket to Labuan Bajo
Mengarungi pulau pulau seperti Lombok, Sumba, Sumbawa, Bima terlihat warna pulau dari yang lebih dominan hijau, akhirnya mulai menguning dan coklat. Itu pertanda kita memasuki daerah Nusa Tenggara Timur. Pulau pulau kecil di wilayah ini memang terkesan tandus. Hal ini dikarenakan daerah Nusa Tenggara Timur di dominasi dengan daerah savana, yaitu rerumputan dan juga pohon pohon yang cenderung memiliki batang yanng ramping. Sehingga ketika musim kemarau pohon pohon ini akan meranggas dan tampak hanya batangnya saja. Sedangkan daerah rerumputan pun menjadi kuning dan coklat.
Setelah 1 jam 20 menit aku tiba di Bandar Udara Komodo. Tampak berbeda dengan bandara ketika aku datang kesini setahun lalu. Bandar udara yang dulu tampak seperti kantor kecamatan kini sudah berdiri megah dan tampak sangat layak menerima tamu kelas dunia. Sayangnya landasan di Bandar Udara Komodo memang kecil dan pendek, sehingga hanya memungkinkan pesawat kecil yang mendarat di Bandar Udara ini.
Tidak langsung menuju hotel, aku dan rombongan menuju ke sebuah restaurant bernama Treetop di jalan utama Labuan Bajo. Memilih untuk duduk dipaling atas adalah sangat tepat sambil menikmati pelabuhan dari atas.
Treetop Restaurant
Makan di restaurant ini beraneka ragam. Dari seafood, lobster, kwetiaw hinge american breakfast ditawarkan disini. Tak ingin cepat pergi, setelah makan kita masih bersantai berbincang sambil menikmati pemandangan serta angin sepoi sepoi di musim kemarau.
Pemandangan dari atas Treetop
Setelah puas dan bahkan hampir tertidur pulas, akhirnya kita check in di Hotel Luwansa yang lokasinya tidak jauh dari pusat kota. Hotel yang terletak di pinggir pantai ini memang tidak semegah hotel bintang lainnya. Namun design yang minimalis & sederhana menjadikan hotel ini terlihat elegan dan tampak mahal. Padahal sama saja dengan hotel bintang lainnya.
Ketika matahari mulai terbenam, kita beranjak dari hotel untuk pergi ke Paradise Bar yang terletak agak diatas dari daratan Labuan Bajo. Dari sini kita bisa melihat matahari terbenam dibalik pulau pulau kecil yang ada di sekitar Labuan Bajo. Duduk santai di pinggir tebing sambil menikmati minuman dingin, tempat ini masih menjadi tujuan favorite wisatawan untuk menyaksikan matahari terbenam.
Paradise Bar
Setelah terbenam kami pun memilih sebuah restaurant untuk makan malam. Made in Italy, sebuah restaurant yang menyajikan makanan Italia yang memiliki pemandangan lampu lampu kapal yang tengah bersandar di pelabuhan. Dengan suasana remang remang tempat ini cukup romantis namun masih terkesan santai. Pizza adalah makanan yang menjadi favorite disini dan memang pizza disini termasuk the best italian pizza yang pernah ada di Indonesia. Bahkan restaurant di Jakarta & Bali kalah dengan Pizza yang ada disini. Walupun makanan disini cukup lama dalam proses pembuatannya, tetapi sangat layak untuk ditunggu. Puas rasanya makan malam ditempat ini. Rasanya ingin cepat kembali ke hotel dan tidur denan perut kenyang.
